Jangan kaget jika kotamu gelap mendadak pada tanggal 31 Maret 2012,
Pkl.20.30-21.30 waktu setempat. Pasalnya, Earth Hour kembali digelar di
Indonesia untuk keempat kalinya.
Tahun ini, ada 26 kota di
Indonesia turut berpartisipasi memadamkan lampu. Miliaran penduduk dunia
di ribuan kota lain juga akan secara sukarela melakukan hal yang sama.
Gerakan
secara bersama-sama memadamkan lampu ini berawal di Sydney pada 2007.
Adalah WWF-Australia, Fairfax Media, dan agen periklanan Leo Burnett
Sydney pertama kali melakukannya. Saat itu, mereka ingin mengurangi gas
rumah kaca pemicu pemanasan global di kota Sydney sebesar 5%.
Mereka
lalu mencari aksi sederhana yang bisa dilakukan bersama-sama oleh semua
orang dari berbagai kalangan untuk mencegah meluasnya dampak pemanasan
global.
Earth Hour atau gerakan mematikan lampu selama satu jam
itu ingin mengingatkan bahwa siapapun kita, apapun latar belakang kita,
di manapun kita berada, kita berpotensi untuk melakukan hal yang
membantu Bumi.
Anak-anak, pelajar, politisi, CEO perusahaan,
sampai kakek nenek bisa berpartisipasi dalam Earth Hour. Di tahun
perdananya, ada 2,2 juta warga Sydney yang berpartisipasi di Earth Hour,
memadamkan lampu mereka selama satu jam.
Di tahun kedua
penyelenggaraannya, ide ini disambut baik oleh Kanada. Hanya dalam waktu
singkat, 35 negara langsung bergabung mendukung Earth Hour. Baru pada
tahun ketiga pelaksanaan Earth Hour internasional, Indonesia menyusul,
tepatnya pada 2009.
Saat itu, hanya Jakarta saja yang mengikuti
Earth Hour. Biarpun sendirian, Earth Hour di Jakarta telah menghemat 50
Megawatt dari pemadaman lima ikon Ibu Kota.
Pemilihan Jakarta
sebagai kota pertama tempat dilakukannya Earth Hour di Indonesia
memiliki alasan kuat. Selain statusnya sebagai Ibu Kota, konsumsi
listrik warga Jakarta juga tinggi.
Berdasarkan data konsumsi
listrik tahun 2008, total 23% konsumsi listrik Indonesia terfokus di DKI
Jakarta dan Tangerang. Itu untuk skala kota. Jika melakukan
perbandingan antar pulau, maka wilayah Jawa-Bali adalah konsumen listrik
terbesar di Indonesia. Sebesar 78% konsumsi listrik negara terpusat di
kedua pulau ini.
Sementara pulau-pulau lain belum mendapat akses
listrik yang merata, kita yang tinggal di Jawa Bali bisa menikmati
listrik sepuasnya, bahkan cenderung boros, dan langsung merengut saat
mengalami pemadaman bergilir.
Padahal, kalau 10% warga Jakarta
saja melakukan penghematan listrik saat Earth Hour, energi yang dihemat
bisa bermanfaat memenuhi kebutuhan listrik di 900 desa dan menyediakan
oksigen bagi 534 orang. Itu baru satu jam, apalagi kalau kita berhemat
terus menerus?
Banyak orang bertanya, mengapa hanya satu jam?
Apakah penghematan satu jam dalam setahun cukup untuk “menebus dosa”
pemborosan energi listrik yang kita lakukan bertahun-tahun? Tentu saja
tidak. Dan “penebusan dosa” bukan tujuan Earth Hour.
Momen satu
jam ini merupakan pengingat bagi kita semua tentang efek dahsyat upaya
bersama menghemat energi. Seperti peribahasa yang kita kenal,
“Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Hal kecil jika dilakukan
bersama-sama akan berdampak besar, seperti mematikan lampu dan alat
elektronik lainnya yang tidak terpakai di rumah maupun kantor.
Di
luar waktu satu jam pemadaman, justru yang lebih penting adalah
menjadikan Earth Hour dan aksi go green lainnya sebagai gaya hidup.
Sejalan dengan prinsip tersebut, sejak tahun 2011, ada tanda plus (+) di
belakang angka 60 yang menjadi simbol Earth Hour. Ajakannya adalah,
setelah 1 jam, jadikan hemat energi sebagai gaya hidup.
Untuk
pelaksanaan Earth Hour pada 2012, targetnya hanya 7 kota yang akan jadi
peserta. Ternyata, malah ada 26 kota di Indonesia yang akan
berpartisipasi. Hebatnya lagi, tidak semua dari 26 kota yang akan ikut
serta itu boros energi seperti halnya Jakarta atau Tangerang.
Alasan
mereka sungguh sedap didengar: untuk apa menunggu boros terlebih dulu
kalau kita bisa melakukan penghematan sejak sekarang?
“Pelipatgandaan
jumlah kota yang berpartisipasi dalam Earth Hour tahun ini adalah salah
satu indikator meningkatnya kepedulian publik terhadap isu-isu
lingkungan khususnya hemat energi dan gaya hidup hijau. Perkembangan
positif ini dimotori oleh para “jawara” komunitas dari kalangan pelajar,
mahasiswa, profesional, bisnis, dan pemerintah di kota masing-masing.
Semoga momen ini menjadi awal dari semakin banyak aksi yang kita lakukan
bagi kelestarian rumah tunggal kita, planet Bumi,” ujar Nyoman
Iswarayoga, Direktur Program Iklim & Energi WWF-Indonesia.
Earth
Hour telah menjadi kampanye publik. Semua orang bisa ikut serta dalam
Earth Hour 2012 dengan memadamkan minimal dua lampu di rumah pada
tanggal 31 Maret 2012 mendatang.
Laman
Get More Thinking Of You Greetings
Selasa, 27 Maret 2012
Senin, 26 Maret 2012
Sutradara kenamaan Hollywood, James Cameron, akhirnya berhasil
mencapai titik terdalam di lautan. Cameron berhasil mencapai Mariana
Trench, titik terdalam di dunia yang mencapai 11 ribu meter di bawah
permukaan laut.
Menurut anggota tim ekspedisi National
Geographic Stephanie Montgomery, Cameron kembali ke permukaan satu jam
lebih cepat dari yang direncanakan. »Dia (Cameron) kembali dari
penyelaman Senin pagi, dan lebih cepat 70 menit dari perkiraan,” kata
Stephanie yang dikutip Guardian.Cameron berhasil menaklukkan Mariana Trench seorang diri setelah menggunakan alat khusus yang diberi nama Deepest Challenger. Alat khusus itu sengaja dirancang untuk menahan tekanan yang sangat besar saat menyelami Mariana Trench. ”Tekanan pada kedalaman itu hampir sama dengan tiga mobil jenis SUV menimpa tubuh manusia,” kata Stephanie.
Aktivitas selam yang dilakukan Cameron merupakan yang kedua di Mariana Trench. Tahun 1960 insinyur Swiss Jacques Piccard bersama seorang Kapten Angkatan Laut AS Don Walsh berhasil menjadi yang pertama menaklukkan Mariana Trench. Meski begitu, Cameron merupakan penyelam pertama yang berhasil mencapai Mariana Trench seorang diri.
Mariana Trench sendiri merupakan sebuah titik berbentuk parit di dasar laut dengan kedalaman hampir 11 ribu meter. Dengan kedalaman itu, Mount Everest yang merupakan puncak gunung tertinggi di dunia dengan ketinggian 8.848 meter akan tenggelam jika diletakkan di Mariana Trench. Parit yang terletak di bagian barat Samudera Pasifik itu juga memiliki luas yang setara 120 kali Grand Canyon di AS.
Menurut Cameron, penyelaman itu tergolong sebagai kegiatan yang berbahaya. Kebocoran sedikit saja pada Deepest Challanger, kata Cameron, akan membuat tubuhnya meledak bersama alat tersebut. »Kapal selam pun akan meledak jika terjadi kebocoran kecil,” ujar Cameron.
Cameron sendiri mengaku tidak merasa takut atau gugup ketika melakukan penyelaman itu. Cameron mengatakan, »Ketika sedang menyelam, kita hanya perlu merasa yakin bahwa mereka (perancang Deepest Challenger) telah bekerja dengan baik.”
Sutradara film Titanic dan Avatar itu menyelam ke Mariana Trench untuk mengambil beberapa sampel mengenai kehidupan bawah laut di wilayah yang tidak terjamah. Dalam misi itu Cameron juga mengambil video dan gambar-gambar kehidupan bawah laut.
Cameron sejak kecil memang dikenal memiliki ketertarikan dengan hal-hal yang berkaitan dengan dunia laut. Ia juga tercatat pernah melakukan 72 kali aktivitas menyelam di lautan dalam. Dari 72 aktivitas selam, 33 di antaranya digunakan dalam rangka pembuatan film Titanic yang memecahkan rekor pendapatan dalam sebuah film.
Komet Lulin (C/2007 N3)
Posted on 15 Februari 2009 by pakarfisika
Ada Komet..!
Ketika komet menghampiri bagian-dalam Tata Surya, radiasi dari matahari menyebabkan lapisan es terluarnya menguap. Arus debu dan gas yang dihasilkan membentuk suatu atmosfer yang besar tetapi sangat tipis di sekeliling komet, disebut coma. Akibat tekanan radiasi matahari dan angin matahari pada coma ini, terbentuklah ekor raksasa yang menjauhi matahari.
Coma dan ekor komet membalikkan cahaya matahari dan bisa dilihat dari bumi jika komet itu cukup dekat. Ekor komet berbeda-beda bentuk dan ukurannya. Semakin dekat komet tersebut dengan matahari, semakin panjanglah ekornya. Ada juga komet yang tidak berekor.
Komet Lulin:
Lulin, adalah komet yang memiliki dua ekor. Selama beberapa malam di bulan Februari 2009 ini sebuah Komet yang diberi nama “Lulin” akan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yaitu sekitar 0,41 AU. Bahkan pada tepat 15 Februari 2009 jam 00:00 WIB, komet Lulin ini berjarak 0,5427 au atau setara dengan 81.186.780.33 km.
Pada jarak sekitar 82 juta km ini kecerlangan komet ini diperkirakan akan mencapai magnitude 5 – 6 yang artinya dalam kondisi langit cerah komet ini dapat terlihat oleh mata telanjang.
Sang Penemu:
FaceBook QY
Saya persilahkan Anda mampir di [ TataDende ]
Pak Toha menulis dalam [ event astronomi bulan Feb 2009 ] ini:
Nama Lulin adalah dari nama Observatorium dimana komet tersebut ditemukan. Uniknya dari komet ini adalah ekor komet yang tidak sebagaimana lazimya. Lulin memiliki ekor yang berjumlah dua dan saling bertolak belakang yang satu menjauhi Matahari sedang yang lain mengarah ke Matahari, sehingga ekor yang satunya ini disebut “antitail”. Namun deikian, sejauh ini periode komet ini belum diketahui karena kemungkinan ini adalah kunjungan pertamanya mendekati Matahari dan baru akan berkunjung lagi ribuan tahun yang akan datang. Teleskop adalah pilihan terbaik untuk “hunting” komet ini.Lulin, si komet ‘hijau’:
Penampakan komet ‘hijau’ Lulin oleh Jack Newton dari [ Science @ Nasa ], yg diambil pada 1 Februari 2009 lalu dengan bantuan teleskop 14 inchi di Arizona adalah sebagai berikut: (bintik2 putih di sekeliling komet adalah bintang, galaksi, dll objek angkasa lainnya yg berjumlah milyaran…subhanallah)
Komet Lulin yang Hijau itu...
Posisi malam itu sangat mudah dilacak, sebab bersebelahan dengan sang bulan yang memang masih nampak indah untuk diamati. Secara simulasi (Starrynight), kenampakan komet Lulin pada jam 00:00 hari Ahad 15 Februari 2009 dari wilayah pengamatan Solo dan sekitarnya adalah sebagai berikut:
Komet Lulin, di samping Bulan
Dari kejauhan, ekor komet memang mendominasi. Namun bila komet Lulin bisa kita dekati hingga jarak 50 km, maka wujudnya akan nampak seperti gambar di bawah ini:
Profile komet Lulin
1. Dari blog Pak Toha, berikut simulasi jadwal:
Event 1 Maret 2009: Arah Kiblat Mudah
Posted on 16 Februari 2009 by pakarfisika
Hilal kiblat
Menentukan arah kiblat memang banyak cara dan ragamnya, nah cara ini adalah langka dan masih sangat jarang dipakai. Cara dengan menggunakan sinar bulan, apalagi masih awal fasenya, memang sangat sulit.
Tetapi dengan metode menancapkan dua tiang vertikal, maka pandangan yg searah di kedua tiang tersebut merupakan arah ke Bulan Sabit itu, dan inilah arah kiblat yang sangat presisi namun sangat mudah.
Berikut visualnya…:
Hilal Arah Kiblat
Visualnya:
Arah Kiblat via Hilal
Al-Qur'an Surat ke 13 - Al-Ro'd ayat ke 2
Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu. (QS. 13:2)
[ Al-Qur'an Online ]
PENOMENA ALAM BULAN
Super Moon vs Full Moon
Posted on 17 Maret 2011 by pakarfisika
Fenomena alam bulanan bakal terjadi lagi, yakni Bulan Purnama. Namun
Bulan Purnama Maret 2011 ini unik, sebab hanya terulang 18 tahun sekali.
Nah, mari kita saksikan fenomena kagungan Ilaahi ini, sembari kita
berdzikir di malam hari. Ingat, 19 Maret 2011 selepas Maghrib, puncaknya
tengah malam s/d menjelang Shubuh… Jadi udah 20 Maret lhoo Super Moon :
Super Moon adalah istilah dalam dunia Astrologi, dan tidak dikenal dalam Astronomi. Super Moon adalah penampakan Bulan ketika jaraknya paling dekat ke Bumi sekitar 90% atau lebih. Dan seperti kebiasaan Astrologi, fenomena ini dikaitkan dengan bencana alam, atau karakter seseorang.
Bagaimana terjadinya Super Moon?
Bulan adalah satelit Bumi. Bulan beredar dalam orbitnya yang berbentuk elips dan bukan lingkaran. Karena lintasan yang berbentuk elips inilah, maka selama peredarannya, suatu saat Bulan berada pada titik terjauh dari Bumi, pada saat yang lain berada pada titik terdekat. Titik Bulan terdekat dengan Bumi secara astronimis disebut perigee dan titik terjauh disebut apogee.
Seperti biasanya Bulan beredar dalam orbitnya. Ketika berada sangat dekat ke Bumi (perigee) akan tampak lebih besar dari hari biasa. Bulan yang tampak lebih besar karena jaraknya mendekat ke Bumi, baik saat Bulan Purnama atau Bulan Baru inilah yang disebut sebagai Super Moon.
Extreme Super Moon:
Super Moon di titik perigee mungkin tidak selalu terjadi bersamaan dengan Bulan Purnama. Namun, pada tanggal 19 Maret 2011 ini akan menjadi hari istimewa, karena Bulan perigee terjadi bersamaan atau berdekatan dengan Bulan Purnama. Nah, saat inilah yang disebut Super Moon Ekstrim; Bulan terdekat saat Purnama.
Efek alami dari Bulan di Bumi:
Secara sains, keberadaan Bulan mempengaruhi Bumi, dan ini adalah fenomena alam biasa. Karena Bulan mengitari Bumi sebulan sekali, maka efek ini juga terjadi bulanan. Efek itu antara lain:
- Terjadinya aliran laut pasang surut karena gravitasi Bulan. Pada Bulan Purnama dan Bulan Baru pasang-surut sedikit lebih besar.
- Pasang Bumi; yakni kemungkinan adanya gempa Bumi pada saat Bulan Purnama. (Gempa Bumi adalah fenomena alam, terjadi setiap hari di bumi, tetapi kita tidak dapat mengamati, kecuali gempa yang besar2 saja.)
- Efek ke Gunung Berapi lebih tinggi pada hari-hari Bulan Purnama dan Bulan Baru.
Disamping, efek alami; ternyata manusia ada dan senang mengaitkan efek tersebut secara astrologis. Seolah bencana di Bumi itu benar2 akibat adanya pengaruh langsung dari Bulan, ini sekedar gugon tuhon = isapan jempol saja. Misalnya:
- Pada tahun-tahun 1955 dan 1992, ada bencana pada malam Super Moon.
- Pada tahun 1974, badai Topan Tracy dan banjir besar di Australia.
- Pada tahun 2005, dua minggu sebelum Super Moon, terjadi tsunami di Aceh.
- 2011 ini, Jepang hancur oleh gempa Bumi dan tsunami lalu krisis reaktor nuklir juga akibat dari Super moon ini,
- dll…
Astrologi dan astronomi pada awalnya (sebelum Abad 17) satu. Setelah abad ke-18 baru dianggap sebagai disiplin ilmu yang benar-benar terpisah. Astronomi, mengkaji objek dan fenomena yang berasal di luar atmosfer Bumi, dan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan. Sedang Astrologi, mempelajari benda-benda langit lalu menggunakan arti posisi benda-benda langit itu sebagai dasar untuk psikologi, prediksi peristiwa masa depan, dan pengetahuan esoterik lainnya. Astrologi bukanlah ilmu pengetahuan dan biasanya lebih dikenal sebagai ilmu ramalan.
Fenomena Langka:
Nah, lepas dari hal2 yg njlimet terkait super moon – astrologi, mari kita fokuskan pada 19 maret 2011 ini, yang astronomis saja. Ahad dini hari (20/3) itu akan kita saksikan fenomena langka, yakni Bulan Purnama sekaligus Bulan terdekat ke Bumi, atau Moon @ Perigee.
Secara astronomis, puncak Full Moon atau Bulan Purnama terjadi pada 19 Maret pukul 18:11 GMT/UT atau waktu Indonesia pada 20 Maret pukul 01:11 WIB, dan Moon Perigee akan terjadi sekitar jam 02:10 WIB, pada jarak sekitar 356.577 km.
Berikut kira2, penampakan Bulan saat jaraknya terdekat ke Bumi pada tanggal 20 Maret 2011 itu…
Sedang gambar di bawah ini adalah penampakan Bulan Purnama, sekitar sejam sebelumnya…
Wah, kok biasa saja ya…
Ya iya, sebab ini sudah hasil potret oleh NASA. Kalau mau yg beda dan lain, kita saksikan tengah malam itu dan kita potret sendiri. Cukup dengan Binokuler atau keker saja, insya Alloh hasilnya akan sungguh beda…
Kalau mendung ya nasib, tapi ada cara yang ndak terpengaruh cuaca di Bumi, seluruh objek dalam tata Surya bisa kita saksikan, silahkan kunjungi alamat ini: Simulator Tata Surya
Akhirnya saya kopikan pesan Prof. Thomas Djamaluddin:
Potensi bencana tetap harus diwaspadai bila ada efek penguatan dengan faktor lain, baik faktor cuaca maupun faktor geologis. Bila cuaca buruk di laut dan wilayah pantai diperkuat dengan efek pasang maksimum saat perigee dan purnama, harus diwaspadai potensi bahaya di wilayah pantai yang mungkin saja menyebabkan banjir pasang (rob) yang lebih besar dari biasanya. Demikian juga bila penumpukan energi di wilayah rentan gempa dan gunung meletus, efek penguatan pasang surut bulan mungkin berpotensi menjadi pemicu pelepasan energi. Tetapi kondisi perigee bulan bersamaan dengan purnama bukan sebagai sebab utama bencana, tetapi bisa menjadi pemicu efek penguatan faktor lain. Artinya, kalau tidak ada indikasi cuaca buruk di wilayah pantai atau tidak ada penumpukan energi di wilayah rawan gempa dan wilayah rawan gunung meletus, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan posisi perigee bulan bersamaan dengan purnama.
BULAN PURNAMA PALING BESAR
Supermoon : Omong Kosong
Posted on 21 Maret 2011 by tata
Bulan Purnama Maret 2011 memang merupakan Purnama paling besar
semenjak 19 tahun ini, dan membuat langit menjadi sangat cerah dan
terang benderang. Malam itu meski jam 1 dini hari, namun cahaya bulan
benar2 menjadi penerang bagi gegelapan…. Fenomena sepanjang 19 Tahun.PURNAMA 19-19:
Berikut foto yang semalem saya ambil:
Posisi Bulan di atas, berjarak sekitar 356.575 km dari Bumi, padahal ketika menjauh bisa mencapai lebih dari 400.000 km . Fase Purnama pada tingkat 100% atau Purnama Penuh, benar2 Full Moon.
Haadla al-Badru, inilah Bulan Purnama…!Kebetulan, secara UT/GMT; purnama terjadi pada tanggal 19 Maret 2011. Atau 20 Maret 2011 waktu Indonesia. Dan fenomena Bulan sedekat dan sebesar ini akan terjadi dalam periode sekitar 19 tahun.
Pada tanggal 19, bulan akan lebih dekat – dan dengan demikian lebih besar – daripada sebelumnya dalam dua dekade. Perhatikan gambar di bawah ini, dua bulan tersebut diambil saat beda jaraknya dari Bumi, saat terjauh dan saat terdekat. Memang ada perbedaan dalam ukuran.
Fenomena sebelumnya juga terjadi pada tahun 1992. Bulan Purnama (Full Moon) malam itu benar2 muncul sekitar 14 persen lebih besar dan lebih terang dari biasanya, namun walaupun terang, istilah ‘supermoon’ memiliki sisi gelap di balik terangnya sang Rembulan.
‘Supermoon’ telah dikaitkan dengan bencana alam besar di masa lalu, dari gempa bumi sampai banjir – yang banyak dilontarkan oleh astrologis. Sedang para astronom dan ilmuwan, mengatakan bencana adalah tidak ada kaitannya langsung oleh sebab adanya ‘Supermoon’.
Pada 19 Maret (UT) atau 20 Maret (WIB), saat Bulan di titik perigee tahun ini, merupakan titik orbit bulan yang paling dekat ke Bumi. Orbit Bulan yang berbentuk elips menyebabkan jarak Bulan bervariasi ke Bumi. Perigee Bulan tahun ini, kata Steve Owens di Dark Sky Diary, sekitar 8 persen lebih dekat ke Bumi daripada biasanya, dan sekitar 2 persen lebih dekat ke Bumi dari periode Bulan perigee rata-rata. Bahkan, itu akan menjadi posisi terdekat sejak 1992.
Selepas Shubuh, penampakan Bulan menjadi semakin indaaaah:
SUPER MOON sekedar OMONG KOSONG:
Luapan kegembiraan adalah wajar saat “Supermoon” terjadi pada tanggal 19 Maret 2011, karena Bulan akan mendekati Bumi paling dekat sejak tahun 1992.
Menurut Richard Nolle,seorang profesional astrolog bersertifikat, supermoon selama 2011 akan terjadi selama 6 kali, 3 kali saat bulan baru dan sisanya bulan purnama:
MAR 19, 2011 pada 18:10 GMT saat purnama
APR 18, 2011 pada 02:45 GMT saat purnama
SEP 27, 2011 pada 11:10 GMT saat bulan baru
OCT 26, 2011 pada 19:57 GMT saat bulan baru
NOV 25, 2011 | 06:10 GMT saat bulan baru
Namun, apakah supermoon itu benar2 membuat wajah bulan menjadi tambah besar…? Atau hanya sekedar nama yang dibesar2kan…?
Pada bulan ini perigee Bulan akan mencapai 356.577 km dari Bumi, dan memang akan di terdekat dalam hampir 20 tahun. Tapi seberapa dekat itu dibandingkan dengan perigee lain?
Jarak rata-rata perigee Bulan, yang sekitar ~ 364.000 km. Jarak terjauh atau apogee rata-rata 405.000 km. Sedang jarak normal Bulan – Bumi rata-rata 385.000 km.
Kira-kira “Supermoon”, apakah akan mendekat ~ 2% lebih dekat ke Bumi daripada bulan paling perigee? Sungguh sebuah spekulasi saja. Apalagi bila definisinya sampai 90%…. Wow..!
Bulan mendekat dan membesar ke Bumi, apa sih artinya bagi mata kita? Secara visual, tidak ada sama sekali. Bulan akan menjadi besar di langit, tetapi mata kita tidak akan benar-benar bisa membedakannya. Atau katanya menjadi lebih cerah, tetapi mata kita tetap tidak bisa membedakan secara siginifikan, sehingga “Supermoon” akan tampak persis sama seperti yang selalu terjadi kalau sudah penuh atau purnama seperti bulan2 biasa.
ILUSI sebuah REMBULAN:
Pada atau sekitar 19 Maret, ketika apa yang disebut “Supermoon” terjadi, pada pendekatan yang terdekat dengan Bumi selama dua dekade, orang memang akan melaporkan bahwa Bulan tampak jauh lebih besar dari biasanya. Tapi itu tidak akan benar-benar jauh lebih besar di langit sama sekali. Semuanya ada dalam persepsi kita!
Kita melihat Full Moon di atas begitu besar di ufuk cakrawala. Apakah Bulan benar2 tampak begitu besar ya…? jawabannya adalah: tidak, benar-benar.
Bulan mengorbit Bumi dalam orbit elips, artinya bahwa jaraknya ke Bumi tidak selalu sama. Terdekat Bulan pernah mendekati ke Bumi (disebut perigee) adalah pada jarak 364.000 km, dan terjauh yang pernah mencapai (apogee) adalah sekitar 406.000 km (angka-angka ini bervariasi, dan fenomena Full Moon pada tanggal 19 Maret 2011 ternyata bisa lebih dekat dari 357.000 km).
Jadi perbedaan persentase dalam jarak antara rata-rata perigee dan apogee sekitar ~ 10%. Artinya, jika purnama terjadi bersmaan dengan perigee, pendekatan bisa mencapai 10% lebih dekat.
10% ini sama sekali bukan yang menyebabkan penampakan Bulan menjadi seolah besar sekali seperti yang nampak di cakrawala, namun 10% itu bila di atas kepala kita, ya tetap nampak kecil seperti gambar di atas, seolah Bulan itu sedang berayun.
Apa yang benar-benar menyebabkan Bulan terlihat besar tersebut adalah sirkuit di otak kita. Ini adalah ilusi optik, sehingga terkenal sebagai: Ilusi sebuah remBulan.
Jika Anda mengukur ukuran sudut Bulan Purnama di langit itu bervariasi antara 36 menit busur (0,6 derajat) di perigee, dan 30 menit busur (0,5 derajat) di apogee, tetapi perbedaan ini akan terjadi dalam sejumlah orbit lunar (bulan), tidak sepanjang malam selama. Bahkan jika Anda mengukur ukuran sudut dari Bulan Purnama sesaat setelah terbit, lalau beberapa jamkemudian dan pada saat Bulan itu di atas kepala kita, hasilnya tetap sama dan tidak ada perbedaan ukuran sama sekali.
Jadi mengapa otak kita berpikir bahwa ukuran Bulan saat di atas ufuk lebih besar ketimbang ketika di atas kepala? Tidak ada konsensus yang jelas mengenai hal ini, tetapi dua penjelasan paling masuk akal adalah sebagai berikut:
1. Ketika Bulan rendah di cakrawala ada banyak objek (bukit, rumah, pohon, dll) sebagai pembandingk ukurannya. Ketika itu ketinggian tidak begitu nampak. Hal ini dapat menciptakan sesuatu mirip dengan Illusion Ebbinghaus, dimana 2 objek yang sama rukurannya, akan tampak berbeda ketika ditempatkan di lingkungan yang berbeda. Perhatikan ukuran lingkaran oranye di bawah ini…: Sama seolah beda…!
2. Bila kita perhatikan, foto di atas, pohon dan orang yang seolah di depan Bulan itu adalah berada jauh dari Bulan dan itu benar. Bulan nampak masih lebih besar dari Pohon, lebih2 orang itu. Dan memang pohon dan orang itu di Bumi yang sangaaaat jauh dari Bulan. Jadi Bulan memang benar2 besar….!
Fenomena Langka: Gerhana Bulan Total 2011
Posted on 13 Juni 2011 by pakarfisika
Proses Gerhana Bulan Total di Indonesia:
- Gerhana diawali dengan kontak awal penumbra pada pukul 00:25 WIB.
- Gerhana baru bisa disaksikan secara kasat mata saat terjadi kontak awal umbra pada pukul 01:23 WIB, saat bayangan Bumi secara perlahan mulai menutupi Bulan Purnama.
- Puncak gerhana terjadi pada pukul 03:12 WIB dengan Bulan dalam kondisi gelap total.
- Berangsur-angsur kemudian Bulan mulai terlihat lagi dan secara kasat mata kembali sebagai Bulan purnama pada pukul 05:01 WIB seiring kontak akhir umbra.
- Gerhana secara keseluruhan baru berakhir pada pukul 05:59 WIB saat kontak akhir penumbra terjadi.
Peta Visibilitas Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 bagi Bumi dalam proyeksi Mercator:
Karena ternyata semua wilayah Indonesia berpeluang menyaksikan proses fenomena langka ini, maka sunnah Rasul SAW berupa Sholat Gerhana ahsan kita dirikan. Sholat Gerhana Berjamaah,
Tahun ini, PPMI Assalaam mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan event berskala nasional ini. Planetarium Jakarta telah memilih kota Solo-Sukoharjo, dan menentukan lokasi serta sudah melakukan survei terkait penyelenggaraan Obsevasi Nasional Gerhana Bulan Total 2011 ini.
Beberapa agenda telah disiapkan untuk menyambut acara ini,antara lain:
1. Pameran Astronomi Pendidikan, terbukan untuk umum
2. Sarasehan dan Seminar nasional Astronomi (Amatir-Professional)
3. Penyuluhan Astronomi untuk Pelajar SLTP dan SLTA
4. Pengamatan Matahari
5. Star Party dan Fotografi objek angkasa
6. Sholat Berjamaah GBT 2011, dengan Imam: Syaikh Mahrus dari Kairo-Mesir; dan Khotib: Prof. Thomas Djamaluddin dari LAPAN.
Seluruh rangkaian acara akan digelar mulai 14 Juni 2011 – 16 Juni 2011, pagi-siang-sore dan malam.
Manual Acara Obervasi Nasional GBT 2011 di PPMI Assalaam:
OBSERVASI NASIONAL
GERHANA BULAN TOTAL
SELASA – KAMIS, 14 – 16 JUNI 2011
PPMI ASSALAAM – PLANETARIUM JAKARTA
Terbuka Untuk UMUMSELASA, 14 JUNI 2011 (pagi-siang-sore-malam)
1. Penyuluhan Astronomi (untuk Pelajar SLTP)
- Oleh: Tim Planetarium Jakarta
2. Pameran Astronomi dan Aeromodelling
3. Pengamatan Sunspot (Bintik Matahari)
4. Star Party dan Astro Photography
- Planetarium Jakarta,
- CASA,
- JAC,
- Seribu Bintang
- HAAJ
- Kafe Astronomi
RABU, 15 JUNI 2011 (pagi-siang-sore-malam)
1. Penyuluhan Astronomi (untuk Pelajar SLTA)
- Oleh Tim Planetarium Jakarta
2. Pameran Astronomi dan Aeromodelling
3. Pengamatan Sunspot (Bintik Matahari)
4. Sarasehan “Astronomi Antara Hobi & Profesi”
a. Juhana (HAAJ)
b. Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (LAPAN)
5. Star Party dan Astro Photography
- Planetarium Jakarta,
- CASA,
- JAC,
- Seribu Bintang
- HAAJ
- Kafe Astronomi
KAMIS, 16 JUNI 2011 (dini hari-shubuh)
1. Sholat Berjamaah Gerhana Bulan Total (@01:30 – 02:00)
a. Imam : Syaikh Mahrus Abd-Ar-Rohman (Cairo-Mesir)
b. Khotib : Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (LAPAN)
“Gerhana: Antara Mitos, Sains dan Islam”
2. Pengamatan / Observasi Bersama Gerhana Bulan Total
(@01:22 WIB – 04:30 WIB)
Langganan:
Postingan (Atom)